A11Y

HOME

MENU

CARI

Rektor USU: Pascasarjana Berperan Penting Membangun Kapasitas Riset dan Inovasi Indonesia

Diterbitkan Pada28 Agustus 2026
Diterbitkan OlehBambang Riyanto, S.S., M. Si
Rektor USU: Pascasarjana Berperan Penting Membangun Kapasitas Riset dan Inovasi Indonesia
Copy Link
IconIconIcon

Rektor USU: Pascasarjana Berperan Penting Membangun Kapasitas Riset dan Inovasi Indonesia

 

Diterbitkan oleh

Bambang Riyanto, S.S., M. Si

Diterbitkan pada

Jumat, 28 Agustus 2026

Logo
Download

“Inovasi butuh ekosistem riset yang bagus. Inovasi juga butuh pengembangan sumber daya manusia pada level studi magister dan studi doktoral,” ujar Rektor.

HUMAS USU – Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya pendidikan pascasarjana dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi Indonesia. Hal tersebut disampaikan pada prosesi wisuda periode IV Tahun Akademik 2025/2026. yang berlangsung di Auditorium USU, Rabu hingga Jumat (26–28/8/2026).

Dengan tema “Posisi Strategis Pascasarjana bagi Kemajuan Indonesia: Menjadi Problem Solver di Era Kompleksitas”. Menurut Rektor, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kemampuan pengetahuan dan penelitian tingkat lanjut semakin penting seiring dengan meningkatnya ketergantungan pembangunan pada pengetahuan, sains, dan teknologi. Pendidikan pascasarjana tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kualifikasi akademik yang lebih tinggi, tetapi juga memperkuat kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi baru.

Pascasarjana Memperkuat Kapasitas Riset dan Inovasi

Rektor menjelaskan, pendidikan doktoral mempersiapkan sumber daya manusia untuk memimpin penelitian dan menjadi bagian dari tenaga terampil dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Sementara pendidikan magister memperluas kapasitas talenta pada tingkat lanjut yang dibutuhkan untuk mendukung riset dan inovasi.

Hal tersebut juga tercermin dalam data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menunjukkan peningkatan rata-rata pemegang gelar doktor pada populasi usia kerja di negara-negara OECD, dari sekitar 0,9 persen pada awal 2000-an menjadi 1,3 persen pada 2020. Di Swiss, proporsinya bahkan telah mencapai lebih dari 3 persen. Sementara Indonesia masih berada di bawah 0,2 persen.

Dalam Global Innovation Index 2025, Swiss menempati peringkat pertama dunia dalam inovasi, China berada di peringkat ke-10, sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-55 dari 139 negara.

Menurut Rektor, jumlah lulusan pascasarjana memang bukan satu-satunya ukuran kemajuan sebuah negara. Namun, ekosistem inovasi yang kuat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan penelitian dan pengetahuan tingkat lanjut.

“Inovasi butuh ekosistem riset yang bagus. Inovasi juga butuh pengembangan sumber daya manusia pada level studi magister dan studi doktoral,” ujar Rektor.

Pascasarjana sebagai Infrastruktur Pengetahuan Bangsa

Persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa semakin kompleks sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir secara mendalam, bekerja berdasarkan bukti, serta menghubungkan berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Kemampuan tersebut, menurut Rektor, telah dilatih selama proses pendidikan pascasarjana. Dalam penyusunan tesis, disertasi, maupun karya akademik lainnya, mahasiswa terbiasa merumuskan masalah, menyusun pertanyaan, mengkritisi pengetahuan yang telah ada, menganalisis data, menguji asumsi dan gagasan, hingga mempertanggungjawabkan kesimpulan yang dihasilkan.

Pendidikan pascasarjana dinilai sebagai salah satu infrastruktur pengetahuan yang dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan riset, mengembangkan sains dan teknologi, menghasilkan inovasi, serta menyelesaikan persoalan secara mandiri. Ia mendorong para lulusan magister dan doktor yang diwisuda untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan pengetahuan dan kemajuan bangsa.

“Jangan hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi perlu ikut memperluas pengetahuan. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi lebih mengembangkan dan mengarahkannya. Jangan hanya mengamati persoalan bangsa, tetapi ambillah bagian sebagai orang yang memberi solusi di dalamnya,” pesan Rektor.

Lulusan Diharapkan Membawa Manfaat bagi Masyarakat

Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari upaya USU dalam menjaga kualitas pendidikan sekaligus memastikan gelar yang diperoleh lulusan tetap memiliki relevansi di tengah perubahan zaman. Namun, Rektor menegaskan bahwa reputasi universitas pada akhirnya tidak hanya dibangun melalui capaian institusi, tetapi juga melalui karya, integritas, dan kontribusi para alumninya.

Kepada para lulusan, Rektor berpesan agar terus belajar dan beradaptasi setelah menyelesaikan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan setelah lulus tidak selalu dimulai dari posisi yang besar, tetapi kemampuan, integritas, dan kontribusi yang dibangun secara konsisten akan menentukan langkah selanjutnya.

“Kompetensi, integritas, dan kontribusilah yang akan menentukan perjalanan Saudara-Saudari semua,” pungkas Rektor.

Rektor juga mengajak para lulusan untuk terus mengembangkan kepemimpinan, pengetahuan, dan kompetensi agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di USU dapat memberikan manfaat bagi kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Ia turut mengingatkan para lulusan untuk menghargai pengorbanan orang tua, keluarga, serta orang-orang yang telah mendampingi perjalanan pendidikan mereka dan senantiasa menjaga nama baik keluarga serta almamater.

Fitur Aksesibilitas

  • Grayscale

  • High Contrast

  • Negative Contrast

  • Text to Speech

icon

Mengobrol dengan

Halo USU

Halo,
Dengan Layanan Bantuan USU
Ada yang bisa kami bantu hari ini?
- Admin